Lhokseumawe – Tim pelaksana kegiatan pengabdian masyarakat internasional (International Community Service) bertema Plastic Waste to Coastal Entrepreneurship (PWCE) menggelar kegiatan observasi fasilitas pengolahan sampah plastik di Tempat Pemrosesan Akhir (TPA) Alue Lim, Kota Lhokseumawe, Provinsi Aceh, pada 10 Juni 2026. Kegiatan ini dilaksanakan oleh Ahmad Nayan, Zulnazri, Reza Putra, Nurul Islami, dan Faisal dengan melibatkan unsur Pusat Unggulan Iptek (PUI) Teknoplast, Fakultas Teknik, serta Jurusan Teknik Mesin Universitas Malikussaleh bersama dua dosen internasional. Program ini berfokus pada observasi lapangan terhadap mesin pengolahan dan sistem konveyor sekaligus menjadi wadah diskusi ilmiah untuk merumuskan model pemberdayaan masyarakat pesisir berbasis ekonomi sirkular di Lhokseumawe.
Berdasarkan pengamatan fasilitas dan diskusi yang telah dilaksanakan, tim mengidentifikasi tiga isu utama dalam operasional pengolahan sampah plastik di lokasi TPA Alue Lim. Tantangan pertama berhubungan dengan tingginya kebutuhan energi untuk proses pelelehan material plastik. Tantangan kedua mencakup kualitas geometris produk daur ulang yang belum presisi, sedangkan tantangan ketiga berkaitan dengan keterampilan sumber daya manusia yang masih perlu ditingkatkan. Ketiga isu kualitatif tersebut mengindikasikan pentingnya pendekatan terpadu yang memadukan evaluasi teknis proses, pengendalian mutu produk, serta penguatan kompetensi para operator di lapangan.
Guna merespons persoalan energi, tim merumuskan perlunya evaluasi efisiensi termal dan pengukuran konsumsi energi spesifik proses berbasis data yang dapat diuji ulang. Sementara itu, untuk mengatasi ketidakpresisian bentuk produk, diperlukan pendokumentasian parameter proses dan pembuatan lembar pemeriksaan mutu sederhana agar hasil daur ulang memenuhi standar pasar serta tidak berakhir menjadi residu[11]. Di samping perbaikan teknis peralatan, keberhasilan sistem daur ulang ini dinilai sangat bergantung pada kesiapan serta kompetensi sumber daya manusia yang terlibat langsung dalam rantai pemulihan material.
Sebagai tindak lanjut dari temuan lapangan tersebut, tim merumuskan rancangan model pemberdayaan bertahap yang ditujukan bagi kelompok pemulung dan penampung barang bekas di kawasan pesisir. Model pemberdayaan ini mencakup lima tahapan utama, yang diawali dengan pemetaan kebutuhan mitra, dilanjutkan pelatihan pemilahan dan pengenalan karakteristik material plastik, pelatihan teknis pengoperasian alat dan keselamatan kerja, pengenalan aspek kewirausahaan dan analisis pasar daur ulang, serta diakhiri dengan pendampingan dan evaluasi berkala. Rangkaian kegiatan observasi dan perumusan model ini diharapkan menjadi fondasi awal dalam membangun program pengabdian masyarakat yang berkelanjutan untuk meningkatkan nilai ekonomi sampah plastik sekaligus memperkuat perekonomian masyarakat pesisir Lhokseumawe.
